Jumat, Maret 28, 2008

wisuda dan noblesse oblige


Wisuda dan Noblesse Oblige
(Selamat Kepada Wisudawan)

Hari ini Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan hajatan wisuda semester gasal 2007/2008. Lebih dari 1000 ahli madya, sarjana, magister dan doktor akan diwisuda dalam sidang senat terbuka yang dipimpin oleh rektor.

Kepada para wisudawan, saya mengucapkan "Selamat Atas Keberhasilan Menyelesaikan Jenjang Pendidikan, Mudah-Mudahan Barokah". Tentulah keberhasilan ini wajib untuk disyukuri serta diberi pemaknaan yang bijak. Momen wisuda bisa digunakan sebagai "pintu keluar" untuk memasuki dan mengemban tanggung jawab baru yang lebih besar dan luas.

Wisuda bukanlah titik berakhir-nya sebuah perjuangan tetapi wisuda adalah titik-titik lanjutan dalam proses mencapai tujuan akhir (tentulah setiap orang memiliki beragam perpektif tentang tujuan akhir ini). Satu kesepakatan adalah perjuangan tidak diakhiri dengan wisuda.

Prosesi wisuda merupakan sebuah pemberian tanggung jawab yang lebih besar atas apa yang telah dicapai-nya saat ini. Dalam keberhasilan ini terlahir "Noblesse Oblige" yaitu tuntutan atas tanggung jawab baru. Jikalau di-analog-kan dengan seorang petani, maka tanggung jawab yang dipikulnya adalah semakin luas-nya tanah garapan yang harus ia kelola. Itulah wisuda.

Wisuda bukan-lah akhir dari proses belajar dan pengembangan diri. Semua dari kita dituntut untuk selalu mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing. Meminjam teori manajemen pemasaran (yang agak-nya cocok), kita dapat mencoba mengurai apa yang menjadi "Noblesse Oblige" kita.

Teori marketing itu mengatakan bahwa untuk memenangkan kompetisi yang semakin hari semakin ganas trengginas, kita harus memiliki 3 (tiga modal) yaitu modal nilai (value equity), modal citra diri (brand equity) dan modal jejaring (relation equity). Marilah kita sedikit urai ketiga modal itu.

Modal Nilai (Value Equity)
Modal ini lebih mengarah kepada kemampuan substansial kita atau kompetensi yang kita miliki. Semakin kompenten kita (dalam bidang yang menjadi spesialisasi kita) maka kita memiliki modal nilai yang lebih besar. Untuk meningkatkan modal ini maka kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk selalu mengembangkan diri dengan me-homeostasis dan ber-sibernetika. (lihat artikel homeostasis dan sibernetika). Komitmen yang kita bangun bukanlah komitmen yang biasa-biasa saya (according to book rule) tetapi harus "ruaaar" biasa.

Modal Citra Diri (Brand Equity)
Citra diri merupakan modal yang harus selalu kita kelola dengan bijak. Nilai minimal (bottom level) harus selalu kita naik-kan. Karena semakin dewasa kita dituntut untuk selalu memperbaiki peringkat bottom level ini. Jika tidak.... gawat! Citra diri ini harus dibangun dengan komitmen dan prinsip yang jelas, tegas dan konsisten. Jika tidak.... gawat! (lagi). Memang sulit, tetapi jika tidak, maka akan datang stigma kepada kita yang negatif. Dan jika ini terus berlangsung maka ber-konsekwensi pada ketiadaan orang yang simpati kepada kita. Dan untuk memulihkan citra diri yang terlanjur negatif, perlu waktu dan sulit-nya minta ampun.
Maka dengan kesadaran internal, perlu kita bangun citra diri yang positif.

Modal Jejaring (Relation Equity)
Modal ini perlu kita bangun terus menerus. Jejaring merupakan modal mutlak yang kita perlukan jika kita ingin berkembang (bahkan untuk "berkembang biak" kita perlu modal ini he he he). Memperluas per-hubungan dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas menjadi amat penting bagi kita. Silaturahhim selalu membuka pintu rejeki. Untuk bisa mendapatkan modal jejaring yang bagus dan stabil (hubungan yang berkesinambungan) maka modal nilai dan modal citra diri yang baik adalah syarat mutlak. Jika tidak, maka itu adalah awal masalah.... karena orang akan kecewa kepada kita dan kinerja kita. Wah...... gawat!

Apakah "Noblesse Oblige" bagi Universitas?
Dalam konteks ini, universitas sebagai "produsen" wajib menyediakan layanan "purna jual" yang bagus dan bertangung jawab. Minimal perlu disediakan media komunikasi dengan alumni yang relatif baik dan kredibel. Media komunikasi yang bisa mempermudah lalu lintas informasi antara universitas dengan alumni. Penggunaan media internet menjadi sesuatu yang mutlak dan tidak berlebihan. Dalam website resmi universitas seharusnya disediakan layanan ini. Pemberian informasi yang dibutuhkan oleh alumni adalah bentuk tanggung jawab yang harus segera di-tanggung dan di-jawab, meskipun "lepas tangan adalah jalan paling ringan".

(lenggang lenggang kangkung.... gemblelengan ..... lenggang lenggang ........)

Rabu, Maret 26, 2008

...................

m a a f
m a a f m a a f m a a f m a a f
m a a f
(kata yang selalu menuntut untuk disampaikan)

jembar negarane cupet pikirane ...


Jembar Negarane Cupet Pikirane Mlarat Rakyate
(luas negaranya sempit pikiran-nya miskin rakyat-nya)


Telah banyak syair lagu yang memuji keindahan dan kekayaan tanah air kita ini. Mulai lagu-lagu "perjuangan" yang wajib kita hafalkan saat SD sampai lagu pop "musik ngak ngik nguk"-nya Koes Ploes Bersaudara. Katanya "bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu,tongkat kayu dan batu jadi tanaman ….".

Relevan-kah lagu-lagu ini? Secara substansial tidak. Tidak ada lautan yang menjelma menjadi kolam susu, malah lautan pernah memporak-porandakan sebagian wilayah tanah air kita. Tsunami dan hempasan badai telah membuat lautan menjadi tidak ramah lagi. Laut menjadi salah satu ancaman bagi kehidupan, kondisi ini juga diakibatkan oleh pengelolaan pesisir pantai yang tidak baik. Tanaman bakau dimusnahkan dan pantai direklamasi untuk perumahan mewah dan lapangan golf. Sungguh keterlaluan, betul-betul animal labarons.

Saat inipun kail dan jala tidak bisa diandalkan lagi untuk menjadi sumber penghidupan. Kail dan jala telah lumbuh dan tidak bisa bertindak apa-apa untuk membantu pemiliknya yang selalu kekurangan dan semakin kekurangan. Topan dan badai setiap saat terjadi dan selalu harus diwaspadai, katanya karena pengaruh pemanasan global (global warming).

Tongkat kayu dan batu saat ini tidak bisa menjadi tanaman, tongkat kayu telah menjadi pentungan yang selalu terayun dengan beringas oleh aparat keamanan, suporter bola yang frustasi demikian pula nasib "si batu". Kedua benda ini seakan menjadi katalis frustasi sosial sebagian masyarakat tanah air kita.

Mengapa saya menggugat lagu ini? Sepanjang perjalanan hari ini, melalui radio Citra Pro 3 saya mendengarkan berita yang cukup menggenaskan dan menyesak-kan dada. Masyarakat kita harus antri berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mendapatkan minyak tanah. Itupun dengan harga yang sudah melambung naik. Betapa sengsara-nya mereka. Keadaan yang persis seperti pernah saya lihat di film-film hitam putih jaman dulu. Sekarang ada lagi di jaman ini, jaman canggih.

Kelangkaan minyak tanah dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok telah membuat masyarakat kehilangan kekuatan daya beli dan suatu saat pasti juga mereka akan kehilangan kesabaran pula. Disaat yang bersamaan, pejabat kita sibuk dengan kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri. Begitu di-manja-kan mereka dengan fasilitas sehingga sulit menemukan sebuah rasa empati atas kesengsaraan rakyat-nya.

Banyak orang yang untuk makan besok, harus mencari dulu sekarang. Tidak ada lauk yang terhidang, ada nasi thok mereka sudah syukur. Mereka tidak punya simpanan beras apalagi simpanan uang. Untuk memenuhi kebutuhan perut saja ia harus pontang-panting terlebih dahulu. Masa depan hanyalah mimpi bagi mereka dan kesejahteraan seperti "godot yang tak pernah datang". Runyam Bos!

Selasa, Maret 25, 2008

ajaran pak caroll


Ajaran Pak Caroll


Seorang intelektual AS yang bernama Archie B. Caroll dan sekaligus penggagas Corporate Social Responsibility (CSR) mengemukakan bahwa setiap perusahaan haruslah sadar untuk menunaikan 4 tanggung jawab yang melekat pada-nya, yaitu tanggung jawab ekonomi, tanggung jawab legal, tanggung jawab etis dan tanggung jawab filantropis.


Dalam tulisan ini saya tidak membahas "ajaran" Pak Caroll ini dalam perspektif perusahaan, tetapi dalam perspektif lebih kecil yaitu ke-saya-an dan ke-kita-an sebagai manusia. Karena saya melihat bahwa ajaran ini relevan pula jika kita maknai dengan fokus pada tataran individu.


Tanggung Jawab Ekonomi
Tanggung jawab ini menuntut kita sebagai manusia untuk mengambil peran dalam aktivitas ekonomi sebagai sumber "penghidupan" dengan bekerja. Sehingga dalam posisi masing-masing yang melekat pada kita, aktivitas ekonomi yang kita lalukan haruslah memberikan kontribusi bagi tercipta-nya kehidupan yang berkualitas (sejahtera). Sehingga untuk mencapai ini diperlukan suatu usaha keras, tidak cukup hanya sekedar-nya saja. Memaksimalkan potensi adalah kewajiban yang melekat pada tanggung jawab ini.


Tanggung Jawab Legal
Tanggung jawab menuntut kita untuk selalu mematuhi aspek legal atau hukum dalam aktivitas ekonomi kita. Setiap sudut dari aktivitas ekonomi atau aktivitas kerja yang kita lalukan, kita selau dibatasi oleh koridor-koridor hukum. Setiap koridor hukum itu, mestinya kita patuhi. Jika kita hanya menjalankan tanggung jawab ekonomi tetapi lalai untuk menunaikan tanggung jawab legal, maka kita akan menerima konsekwensi hukum-nya.


Tanggung Jawab Etis
Tanggung jawab ini menuntut kita untuk selalu memperhatikan etika dan norma yang berlalu dalam masyarakat dimana kita berada. Ini menjadi koridor pula dalam aktivitas ekonomi atau aktivitas bekerja kita. Apakah etis jika.... , apakah etis jika .... itulah yang perlu kita sering pertanyakan kepada diri kita. Langkah seperti ini akan menghindarkan kita dari stigma "orang tidak tahu etika dan norma".


Tanggung Jawab Filantropis
Tanggung jawab ini menuntut kita untuk selalu peduli dengan sesama-nya. Disamping saya ada teman yang perlu ditolong......... didepan saya ada teman yang perlu diperhatikan....... dan seterusnya. Kewajiban bagi kita untuk selalu peduli dengan sesama kita dan itulah tanggung jawab filantropis yang harus kita lakukan. Kepedulian merupakan puncak tanggung jawab dari ke-empat tanggung jawab tadi, jika tanggung jawab ini dilakukan dengan kesadaran, betapa indah, damai dan tentram-nya dunia.


Itulah Pak Caroll dan "Ajaran"-nya (lamat-lamat terdengar istri saya menyanyikan jingle iklan lama "pak amir sakit pinggang... minum Carol Super Pil")